PADANG, INFOMINANG.COM – Pemerintah Kota Padang mulai mempertimbangkan opsi pembelajaran secara daring apabila kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah semakin memburuk.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Yopi Krislova, mengatakan keputusan tersebut belum ditetapkan. Pihaknya masih memantau perkembangan kualitas udara sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Belum. Itu kita lihat kondisinya. Kalau sudah memungkinkan nanti kita lihat. Nanti saya lapor Pak Wali,” ujar Yopi, dikutip dari KLIKPOSITIF.
Menurut Yopi, pembelajaran daring dapat menjadi alternatif apabila kondisi di luar ruangan dinilai tidak lagi mendukung kegiatan belajar tatap muka.
Namun, penerapannya perlu dibahas bersama sejumlah pihak, terutama karena sekolah juga menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa.
“Opsinya ada, belajar daring bisa juga. Karena daring itu yang krusial dan urgen sekali kita laksanakan. Makan bergizi bagaimana, kita koordinasi dulu,” katanya.
Siswa dan Guru Diminta Gunakan Masker
Di tengah kondisi udara yang dipengaruhi kabut asap, Dinas Pendidikan Kota Padang juga mengimbau siswa, guru, serta tenaga kependidikan untuk menggunakan masker.
Khusus bagi siswa maupun tenaga pendidik yang mengalami gejala seperti batuk atau demam, penggunaan masker dinilai penting untuk mengurangi risiko paparan udara yang kurang baik.
“Bagi siswa yang ada gejala bawaan, gejala batuk atau demam pakai masker. Bagi siswa maupun guru dan tendik kita,” ujar Yopi.
Ia menambahkan, evaluasi akan kembali dilakukan apabila kondisi asap semakin pekat hingga mengganggu jarak pandang.
Jika situasi tersebut terjadi, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pimpinan sebelum menentukan kebijakan terhadap aktivitas sekolah.
PM2,5 Padang Masih Kategori Sedang
Sementara itu, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Koto Tabang, Sugeng Nugroho, menyebut kondisi konsentrasi PM2,5 pada Rabu (2/9/2026) masih berada dalam kategori sedang.
Meski demikian, kadar PM2,5 disebut sudah mendekati batas atas kategori tersebut.
“PM2,5-nya masih masuk kategori sedang, tetapi sudah pada kategori tingginya,” kata Sugeng.
Ia menjelaskan, penentuan kategori kualitas udara dalam Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tidak hanya mengacu pada PM2,5. Terdapat enam parameter yang menjadi dasar penghitungan.
Untuk PM2,5, konsentrasinya diperkirakan telah berada di atas 40 mikrogram per meter kubik.
Kondisi dengan kategori tinggi juga terpantau di sejumlah wilayah, termasuk Dharmasraya dan Sijunjung.
Namun, Sugeng mengingatkan kondisi udara tidak selalu sama di seluruh wilayah Kota Padang. Perbedaan dapat terjadi antarwilayah karena luasnya cakupan Kota Padang.
“Kota Padang itu luas. Bisa ada di Purus, bisa ada di Lubuk Minturun. Titik per titik itu yang kami belum sampai bisa memperkirakan,” pungkasnya.