Ada satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan persoalan besar tentang masa depan Sumatera Barat:
Kalau semakin sedikit anak muda yang mau menjadi petani dan peternak, siapa yang akan menyediakan pangan untuk kita 20 tahun mendatang?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan anak muda.
Justru sebaliknya. Anak muda memiliki hak untuk memilih masa depannya sendiri. Mereka berhak mengejar pendidikan, bekerja di kota, membangun usaha, menjadi ASN, menjadi profesional, atau merantau sejauh mungkin.
Merantau bahkan telah menjadi bagian penting dari perjalanan banyak keluarga Minangkabau.
Namun, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan lebih serius.
Kita sering mengajarkan anak untuk “jangan jadi petani”
Di banyak keluarga, sekolah tinggi sering dikaitkan dengan harapan agar anak mendapatkan pekerjaan yang dianggap lebih baik.
Menjadi dokter, pengacara, ASN, pengusaha, bekerja di perusahaan besar atau profesi profesional lainnya dianggap sebagai pencapaian.
Sementara ketika seorang anak mengatakan ingin menjadi petani atau peternak, tidak jarang muncul kekhawatiran:
“Benarkah itu bisa menjadi masa depan?”
Di sinilah persoalannya.
Bukan karena bertani atau beternak tidak penting.
Justru karena profesi tersebut sangat penting, tetapi belum selalu dipersepsikan sebagai profesi yang memiliki masa depan yang menarik.
Padahal, orang yang bekerja di sawah dan kandang bukan sekadar mencari penghasilan. Mereka sedang menjaga rantai kehidupan.
Padi yang kita makan tidak tumbuh di supermarket.
Daging tidak muncul begitu saja di pasar.
Telur tidak diproduksi oleh minimarket.
Ada tangan petani dan peternak di belakang semua itu.
Yang perlu diperbaiki mungkin bukan anak mudanya
Kita sering mengatakan:
“Anak muda sekarang tidak mau bertani.”
Tetapi pertanyaan yang lebih adil adalah:
“Sudahkah kita membuat pertanian dan peternakan menjadi sektor yang layak dipilih oleh anak muda?”
Anak muda tentu akan menghitung masa depan.
Mereka akan mempertimbangkan modal, teknologi, akses lahan, kepastian pasar, harga jual, risiko gagal panen, biaya produksi, hingga peluang untuk mengembangkan usaha.
Kalau setelah semua itu mereka melihat bahwa bekerja di kota menawarkan pendapatan dan kepastian yang lebih baik, apakah kita bisa sepenuhnya menyalahkan mereka ketika memilih pergi?
Mungkin tidak.
Karena itu, persoalannya bukan hanya soal minat generasi muda.
Persoalannya adalah bagaimana membangun ekosistem yang membuat mereka berkata:
“Saya bisa sukses menjadi petani.”
“Saya bisa membangun bisnis peternakan.”
“Saya tidak harus meninggalkan kampung halaman untuk memiliki masa depan.”
Sumatera Barat punya modal yang besar
Sumatera Barat memiliki tanah, sumber daya alam, tradisi pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, serta masyarakat yang sejak lama memiliki kemampuan berdagang dan berwirausaha.
Tetapi potensi tidak akan menjadi kekuatan ekonomi jika tidak dikelola dengan cara yang sesuai dengan zaman.
Petani masa depan tidak harus identik dengan cara-cara lama.
Begitu pula peternak.
Anak muda bisa masuk dengan teknologi, pemasaran digital, pencatatan keuangan, mekanisasi, pengolahan hasil, branding produk, hingga membangun rantai usaha dari produksi sampai konsumen.
Petani bisa menjadi entrepreneur.
Peternak bisa menjadi business owner.
Dan sawah, kebun maupun kandang bisa menjadi aset produktif yang dikelola secara profesional.
Masalahnya adalah apakah kita sudah memberikan mereka ruang untuk tumbuh?
Jangan sampai kita baru sadar ketika sudah terlambat
Bayangkan 20 tahun mendatang.
Generasi petani hari ini semakin tua.
Anak-anak mereka memilih profesi lain.
Lahan pertanian semakin tertekan oleh kebutuhan pembangunan.
Jumlah anak muda yang mau masuk ke sektor pertanian dan peternakan semakin sedikit.
Pada saat yang sama, kebutuhan pangan terus berjalan.
Kita tetap harus makan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi siapa yang mau menjadi petani.
Tetapi:
Dari mana makanan kita akan datang?
Dan jika semakin banyak kebutuhan pangan harus dipenuhi dari luar daerah, tentu ada konsekuensi terhadap harga, distribusi, dan ketahanan pangan kita sendiri.
Inilah alasan mengapa regenerasi petani dan peternak tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan sektor pertanian semata.
Ini adalah persoalan masa depan daerah.
Mungkin kita perlu mengubah cara pandang
Menjadi petani bukan berarti gagal menjadi orang berpendidikan.
Menjadi peternak bukan berarti tidak punya ambisi.
Dan tinggal di kampung bukan berarti tidak memiliki masa depan.
Justru tantangan kita adalah membuat kampung menjadi tempat yang memungkinkan anak muda membangun masa depan yang layak.
Sebab akan menjadi ironi jika kita bangga ketika anak muda Sumbar sukses di berbagai kota dan negara, tetapi tidak cukup serius menciptakan alasan agar sebagian dari mereka juga bisa sukses dengan membangun daerahnya sendiri.
Merantau boleh.
Bahkan menjadi bagian dari karakter masyarakat Minangkabau.
Tetapi merantau seharusnya menjadi pilihan, bukan satu-satunya jalan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Dan pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang layak kita jawab bersama:
Kalau suatu hari anak kita berkata, “Saya ingin menjadi petani” atau “Saya ingin menjadi peternak”, apakah kita akan bangga?
Atau kita justru masih bertanya:
“Kenapa tidak cari pekerjaan yang lebih bagus?”
Mungkin dari jawaban atas pertanyaan sederhana itu, kita bisa melihat bagaimana sebenarnya kita memandang masa depan pertanian dan peternakan di Sumatera Barat.